TAFSIR AYAT-AYAT PENDIDIKAN SURAT AN-NAHL AYAT 125

Dari pengertian para pakar di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan kebutuhan manusia yang bersifat urgen dan primer, terdapat suatu proses transformasi pengetahuan, pengalaman, kecakapan, dan keterampilan oleh pendidik kepada peserta didik sehingga terjadi perubahan dan perkembangan peserta didik ke arah positif, baik dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik.

Tercapainya suatu tujuan pendidikan dimaksud yang sesuai harapan, maka dalam proses pendidikan terdapat sistem yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Apabila sistem ini baik, maka kualitas dan hasil pendidikan akan baik. Salah satu diantara sistem tersebut adalah metode pendidikan, di samping guru, peserta didik, kurikulum, sarana dan prasarana pendidikan, dan lain yang berkaitan dengannya.

Metode dalam hal ini sebagai sarana untuk mencapai tujuan pendidikan yang dikehendaki dan telah dirumuskan sebelumnya. Dengan kata lain, metode pendidikan dapat berubah sesuai kebutuhan dan tujuan yang menjadi sasaran dalam pencapaian pendidikan yang ditempuh.

Dalam sebuah sya’ir dikatakan “al-Thariqatu ahammu min al-maaddah,” maksudnya adalah metode itu “dianggap” lebih penting dari pada penguasaan materi. Rasionalisasi dari pernyataan tersebut adalah apabila seorang pendidik menguasai banyak materi namun tidak memahami bagaimana materi tersebut bisa disampaikan dengan baik ke pada peserta didik (tidak menguasai metode), maka proses transformasi pengetahuan sulit tercapai. Sebaliknya apabila seorang pendidik hanya menguasai sejumlah atau sedikit materi, tetapi menguasai berbagai macam metode pendidikan, maka dimungkinkan peserta didik akan mampu memahami materi yang ingin disampaikan dalam proses pendidikan.

Memperhatikan betapa pentingnya peranan metode terhadap kesuksesan proses pendidikan, begitu banyak bermunculan metode sebagai bagian dari pemahaman terhadap konteks di atas. Beberapa metode yang tidak asing lagi seperti ceramah, diskusi, penugasan, demontrasi, dan lain sebagainya.

Namun begitu, kebanyakan dari metode yang ada hingga saat ini adalah berasal dari kajian yang bersumber dari pemikiran manusia saja terhadap gejala yang timbul saat itu. Untuk itulah, dibutuhkan sumber lain sebagai sarana dalam upaya menemukan metode yang tepat untuk menjawab masalah dan tantangan pendidikan Indonesia yang timbul saat ini.

Problem solving terhadap pendidikan sangat diperlukan terutama dalam menjawab tantangan yang ada dinegeri kita ini. Salah satunya adalah Al-Quran, yang merupakan kitab suci pedoman hidup bagi manusia, Allah SWT berfirman:

y7Ï9ºsŒ Ü=»tGÅ6ø9$# Ÿw |=÷ƒu‘ ¡ Ïm‹Ïù ¡ “W‰èd z`ŠÉ)­FßJù=Ïj9 ﴿ﺍﻠﺒﻘﺮﺓ: ٢﴾ 

Artinya: Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (Qs. Al-Baqarah [2]: 2)

Al-Quran mutlak menjadi sumber utama sebagai rujukan dalam mengarungi kehidupan ini, termasuk salah satunya adalah sebagai pedoman dalam bidang pendidikan. Begitu banyak ayat dalam Al-Quran yang bertemakan tentang pendidikan, bahkan ayat yang pertama kali diwahyukan Allah SWT kepada Rasulallah SAW adalah perintah “iqra” yang dapat diartikan dengan bacalah, belajarlah, perhatikanlah, dan lain sebagainya.

Dalam makalah ini penulis mencoba mengkaji salah satu ayat dari surat an-Nahl yakni ayat 125, yang berbunyi:

äí÷Š$# 4’n<Î) È@‹Î6y™ y7În/u‘ ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9ω»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }‘Ïd ß`|¡ômr& 4 ¨bÎ) y7­/u‘ uqèd ÞOn=ôãr& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#‹Î6y™ ( uqèdur ÞOn=ôãr& tûïωtGôgßJø9$$Î/  ﴿  ﺍﻠﻨﺤﻝ: ۱۲۵﴾  

Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. An-Nahl [16]: 125)

 B.     Asbabun Nuzul dan Kandungannya

Surat An-Nahl ayat 125 ini merupakan salah satu ayat yang termasuk ke dalam ayat pendidikan, dan juga ayat-ayat mengenai metode dakwah. Dalam rangkaian sejarah turunnya ayat ini, Al-Qurthubi mengatakan bahwa ayat ini turun di Makkah ketika adanya perintah kepada Rasulullah SAW, untuk melakukan muhadanah dengan pihak Quraisy. Akan tetapi, Ibn Katsir tidak menjelaskan adanya riwayat yang menjadi sebab turunnya  ayat tersebut.[4]

Walaupun demikian, ayat ini tetap berlaku umum untuk sasaran dakwah dan atau untuk mendidik siapa saja, muslim ataupun kafir, dan tidak hanya berlaku khusus sesuai dengan asbabun nuzul. Sebab, ungkapan yang ada memberikan pengertian umum. Ini berdasarkan kaidah ushul:

أَن الْعبرة لعموم اللفظ لا بخصوص السبب

Artinya: Yang menjadi patokan adalah keumuman ungkapan, bukan kekhususan sebab.[5]

 

Setelah kata ud‘u (serulah) tidak disebutkan siapa obyek (maf‘ûl bih)-nya. Ini adalah uslub (gaya pengungkapan) bahasa Arab yang memberikan pengertian umum (li at-ta’mîm). Dari segi siapa yang berdakwah, ayat ini juga berlaku umum. Meski ayat ini adalah perintah Allah SWT kepada Rasulallah SAW, perintah ini juga berlaku untuk umat Islam.

Sebagaimana kaidah dalam ushul fikih :

خطاب الرسول خظاب لامته مالم يرد دليل التحصيص

Artinya: “Perintah Allah kepada Rasulullah, perintah ini juga berlaku untuk umat Islam, selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya.[6]

Dalam sudut pandang ilmu dakwah, Kalimat yang digunakan adalah fi’il amr “ud’u” (asal kata dari da’a-yad’u-da’watan) yang artinya mengajak, menyeru, memanggil. Dalam kajian ilmu dakwah maka ada prinsip-prinsip dalam menggunakan metode dakwah yang meliputi hikmah, mauizhah hasanah, mujadalah. Metode ini menyebar menjadi prinsip dari berbagai sistem, berbagai metode termasuk komunikasi juga pendidikan. Seluruh dakwah, komunikasi dan pendidikan biasanya merujuk dan bersumber pada ayat ini sebagai prinsip dasar sehingga terkenal menjadi sebuah “metode”.[7]

Surat An-Nahl ayat 125 ini, Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menafsirkan dengan:

“Wahai nabi Muhammad, serulah, yakni lanjutkan usahamu untuk menyeru semua yang engkau sanggup seru, kepada jalan yang ditunjukkan Tuhanmu, yakni ajaran Islam, dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah mereka, yakni siapa pun yang menolak atau meragukan ajaran Islam, dengan cara yang terbaik. Itulah tiga cara berdakwah yang hendaknya engkau tempuh menghadapi manusia yang beraneka ragam peringkat dan kecenderungannya; jangan hiraukan cemoohan, atau tuduhan-tuduhan tidak berdasar kaum musyrikin, dan serahkan urusanmu dan urusan mereka pada Allah karena sesungguhnya Tuhanmu yang selalu membimbing dan berbuat baik kepadamu Dia-lah sendiri yang lebih mengetahui dari siapa pun yang menduga tahu tentang siapa yang bejat jiwanya sehingga tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah saja juga yang lebih mengetahui orang-orang yang sehat jiwanya sehingga mendapatkan petunjuk.”[8]

Sedangkan dalam tafsir al-Jalalain memaknainya atau menafsirkannya dengan:

Artinya: “(Serulah) manusia, wahai Muhammad (ke jalan Tuhanmu) yaitu, agama-Nya (dengan hikmah) dengan al-Quran dan (nasihat yang baik) yakni nasihat-nasihat atau perkataan yang halus (dan debatlah mereka dengan) debat (yang terbaik) seperti menyeru manusia kepada Allah dengan ayat-ayat-Nya dan menyeru manusia kepada hujah. Sesungguhnya Rabb-mu, Dialah Yang Mahatahu, yakni Mahatahu tentang siapa yang sesat dari jalan-Nya, dan Dia Mahatahu atas orang-orang yang mendapatkan petunjuk. Maka Allah membalas mereka. Hal ini terjadi sebelum ada perintah berperang. Ketika Hamzah  dibunuh (dicincang dan meninggal dunia pada Perang Uhud)”.[9]

Al-Qurthubi menafsirkannya:

هذه الآية نزلت بمكة في وقت الامر بمهادنة قريش، وأمره أن يدعو إلى دين الله وشرعه بتلطف ولين دون مخاشنة وتعنيف، وهكذا ينبغى أن يوعظ المسلمون إلى يوم القيامة. فهى محكمة في جهة العصاة من الموحدين، ومنسوخة بالقتال في حق الكافرين. وقد قيل: إن من أمكنت معه هذه الاحوال من الكفار ورجى إيمانه بها دون قتال فهى فيه محكمة. والله أعلم.

 

Artinya: “(Ayat ini diturunkan di Makkah saat Nabi SAW. diperintahkan untuk bersikap damai kepada kaum Quraisy.  Beliau diperintahkan untuk menyeru pada agama Allah dengan lembut (talathuf), layyin, tidak bersikap kasar (mukhasanah), dan tidak menggunakan kekerasan (ta’nif). Demikian pula kaum Muslim; hingga Hari Kiamat dinasihatkan dengan hal tersebut. Ayat ini bersifat muhkam dalam kaitannya dengan orang-orang durhaka dan telah di-mansûkh oleh ayat perang berkaitan dengan kaum kafir.  Ada pula yang mengatakan bahwa bila terhadap orang kafir dapat dilakukan cara tersebut, serta terdapat harapan mereka untuk beriman tanpa peperangan, maka ayat tersebut dalam keadaan demikian bersifat muhkamWallâhu a’lam.)”[10]

 

Dari penafsiran terlihat bahwa sebagian para ulama memahami sebagai penjelasan  tiga macam metode dakwah yang harus disesuaikan dengan sasaran dakwah. Terhadap cendekiawan yang memiliki pengetahuan tinggi diperintahkan menyampaikan dakwah dengan hikmah, yakni berdialog dengan kata-kata bijak sesuai dengan tingkat kepandaian mereka. Terhadap kaum awam diperintahkan untuk menerapkan mauizhah, yakni memberikan nasihat dan perumpamaan yang menyentuh jiwa sesuai dengan taraf pengetahuan mereka yang sederhana. Sedangkan terhadap Ahl al-Kitab dan penganut agama-agama lain, yang diperintahkan adalah jidaal/perdebatan dengan cara yang terbaik, yaitu dengan logika dan retorika yang halus, lepas dari kekerasan dan umpatan.[11]

Dalam tafsiran lepas, menurut hemat penulis bahwa wajar saja ayat ini para ulama berpendapat bahwa ayat 125 surat An-Nahl merupakan ayat mengenai dakwah.  Ayat ini diawali dengan kata ud’u yang berasal dari kata da’a—yad’u yang membentuk kata da’watan (da’wah) sebagai masdarnya. Kamus Besar bahasa Indonesia mengartikannya penyiaran; propaganda;penyiaran agama di kalangan masyarakat dan pengembangannya; seruan untuk memeluk, mempelajari, dan mengamalkan ajaran agama.[12]

Agar tidak terjadi salah persepsi mengkontekstualisasikan makna yang tersirat dalam Surat An-Nahl ayat 125 dalam konteks pendidikan, maka menjadi penting untuk memahami dan mempertemukan dakwah dan pendidikan berdasarkan definisinya. Dakwah dan pendidikan terdapat kesamaan dalam masing-masing komponen. Sehingga metode yang menjadi sarana dakwah ini juga dapat diterapkan dalam dunia pendidikan.

Kesamaan tersebut yang pertama, yaitu adanya subjek. Dalam konteks dakwah disebut da’i, sedangkan dalam konteks pendidikan disebut pendidik atau guru. Kemudian, kedua adanya objek, dalam perspektif dakwah disebut mad’u, sedangkan dalam perspektif pendidikan disebut peserta didik atau siswa/peserta didik.

Kemudian komponen ketiga adalah adanya materi, hanya saja materi dakwah lebih terfokus pada ilmu agama. Sedangkan materi pendidikan lebih luas dari itu, tidak hanya menyangkut ilmu agama saja, melainkan juga ilmu-ilmu yang lain, seperti ekonomi, kewarganegaraan, fisika dan lain sebagainya.

Adapun komponen keempat, yaitu adanya tujuan yang hendak dicapai, yaitu perubahan ke arah yang positif (perubahan Jasmani maupun rohani) terhadap objek (mad’u atau peserta didik) sasarannya, melalui transformasi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai atau ajaran-ajaran yang disampaikan melalui aktifitas dan prosesnya masing-masing. Sehingga objek (mad’u atau peserta didik) tersebut menjadi manusia yang lebih baik dan sempurna serta bertakwa kepada Allah.

 C.    Analisis Surat An-Nahl 125

Sebagaimana telah dibahas terdahulu asbabun nuzul dan kandungan dari surat An-Nahl ayat 125, maka intisarinya yang penulis temukan adalah metode pendidikan atau dakwah. Metode yang terdapat dalam ayat ini adalah metode hikmah, mauizhah hasanah, dan metode mujadalah (jidaal). Adapun analisis lebih detail dalam tiga metode ini adalah sebagai berikut:

 

  1. Metode Hikmah (بالحكمة)

Hikmah (bijaksana) adalah argumen pasti yang berguna bagi akidah-akidah keyakinan dan meupakan tingkatan seruan yang paling tinggi. Ia dapat menghasilkan kebenaran yang tidak diragukan, tidak mengandung kelemahan, tidak juga kekaburan. Hikmah merupakan dalil yang menjelaskan kebenaran dan menghilangkan kerancuan.[13] Kata-kata al-hikmah pada umumnya banyak berhubungan pengertian ilmu pengetahuan. Hal ini dapat dicermati pada surat al-Baqarah ayat 129, 151, 231, dan 269 terdapat dua kali (2/87) surat Ali Imran : 48, 81, dan 164. (3/89).

Hikmah pada ayat Madaniyah  di atas dirangkaikan sebagai prinsip normatif yang mengatur kehidupan manusia, dapat dicermati dari surat al-Baqarah: 269, (2/87), surat Lukman 12 (31/57) dan Bani Israil 39. (17/50). Selanjutnya hikmah yang dirangkaikan dengan kekuasaan dipahami sebagai kualifikasi pemimpin seperti terdapat pada surat al-Baqarah: 251 (2/87), surat Shad: 20. (38/38), dan surat al-Ahzab 34 (33/90), hikmah dirangkaikan sebagai peringatan-peringatan melalui kisah-kisah pada surat al-Ahzab ayat 5 (54/37) dan akhirnya hikmah berkonotasi sebagai sunnah Nabi, terlihat pada  surat al-Jumu’ah ayat 2 (62/110).

Salah satu dalil yang mengartikan al-hikmah terdapat dalam surat al-Baqarah ayat 231:

…. (#rãä.øŒ$#ur |MyJ÷èÏR «!$# öNä3ø‹n=tæ !$tBur tAt“Rr& Nä3ø‹n=tæ z`ÏiB É=»tGÅ3ø9$# ÏpyJõ3Åsø9$#ur /ä3ÝàÏètƒ ¾ÏmÎ/ 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# (#þqãKn=ôã$#ur ¨br& ©!$# Èe@ä3Î/ >äóÓx« ×LìÎ=tæ ﴿ﺍﻠﺒﻘﺮ: ۲۳۱﴾ 

Artinya: …. dan ingatlah nikmat Allah padamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu Yaitu Al kitab dan Al Hikmah (As Sunnah). Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah [2]: 231)

 

Selanjutnya Ar-Raghib, al-hikmah berarti mengetahui perkara-perkara yang ada dan mengerjakan hal-hal yang baik.[14] Sedangkan Quraish Shihab, kata hikmah antara lain berarti yang paling utama dari segala sesuatu, baik pengetahuan maupun perbuatan. Dia adalah pengetahuan atau tindakan yang bebas dari kesalahan dan atau kekeliruan. Hikmah juga diartikan sebagai sesuatu yang bila digunakan/diperhatikan akan mendatangkan kemaslahatan dan kemudahan yang besar atau lebih besar, serta menghalangi terjadinya mudharat atau kesulitan yang besar atau lebih besar.[15]

Al-Hikmah dalam tafsir At-Thabari adalah menyampaikan sesuatu yang telah diwahyukan kepada nabi. At-Thabari menguraikan:

 ﻴﻗﻭﻝﺒﻭﺤﻰ ﷲ ﺍﻠﺬﻯ ﻴﻭﺤﻴﻪ ﺍﻠﻴﻚ ٬ ﻮﻛﺗﺎﺑﻪ ﺍﻠﺬﻯ ﻧﺯﻠﻪ ﻋﻠﻴﻚ بالحكمة[16]

Sedangkan Mustafa Al-Maroghi bahwa Al-Hikmah yaitu perkataan yang kuat disertai dengan dalil yang menjelaskan kebenaran dan menghilangkan kesalah pahaman.[17] Al-Baidhawi dan Al-Khazin mengartikan hikmah dengan ucapan yang tepat (al-maqâlah al-muhkamah), yaitu dalil yang menjelaskan kebenaran dan menyingkirkan kesamaran (ad-dalil al-muwadhdhih li al-haq wa alimuzîh li asy-syubhah).[18]

Dari definisi di atas, bila kita aplikasi ke dalam pendidikan Islam, maka hikmah dapat digunakan sebagai salah satu metode pendidikan agama Islam. Dan dari penafsiran mufassir, dapat penulis simpulkan bahwa hikmah mengandung arti pengetahuan yang dalam yang menjelaskan kebenaran serta menghilangkan kesalahpahaman melalui tutur kata yang tegas dan benar serta mempengaruhi jiwa, akal budi yang mulia, dada yang lapang dan hati yang bersih.

Artinya bahwa metode hikmah yang dilaksanakan baik dalam kegiatan belajar mengajar atau dalam penyampaian materi pendidikan lainnya harus dengan perkataan yang lemah lembut namun tegas dan benar berdasarkan ilmu melalui argumentasi yang masuk akal dengan dialog menggunakan kata-kata bijak sesuai dengan tingkat kepandaian dan bahasa yang dikuasai peserta didik. Hal ini dimaksudkan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dalam memaknai materi yang diajarkan, sehingga materi yang disampaikan kepada peserta didik diterima dengan baik dan sempurna sesuai maksud yang diinginkan oleh pendidik. Dalam konteks ini, materi yang diberikan jauh dari kesan menakut-nakuti apalagi bermaksud membodohi peserta didik. Selain itu, argumentasi yang dapat diterima akal akan memberikan keyakinan dan kemantapan bagi peserta didik.

Dalam kaitannya dengan pernyataan asumsi penulis di atas, pendidik harus mampu menciptakan suatu interaksi yang kondusif dalam proses pendidikan sehingga tercipta suatu komunikasi yang arif dan bijaksana yang tentunya akan memberikan kesan mendalam kepada peserta didik sehingga “teacher oriented” akan berubah menjadi “student oriented”. Karena pendidik yang bijaksana akan selalu memberikan peluang dan kesempatan kapada peserta didikya untuk berkembang.

2. Metode Mau’izhah Hasanah (الموعظة الحسنة)

Huruf “wawu” (و) pada kalimat di atas adalah huruf athaf, yang menghubungkan dengan kalimat sesudahnya. Dengan demikian cara kedua dalam menyeru manusia kepada jalan yang benar adalah dengan cara al-mau’izhoh al-hasanah.

Mua’izhah diartikan dengan pelajaran, nasihat, pendidikan, sedangkan hasanah diartikan dengan baik atau benar. Mau’izah adalah nasihat bijaksana yang dapat diterima oleh pikiran dan perasaan orang yang menerimanya. Rasyid Rida, ketika menjelaskan al-Baqarah ayat 232 berkesimpulan bahwa mua’izah adalah nasehat yang disajikan dengan cara yang dapat menyentuh kalbu. Inilah yang lazim disebut nasihat baik (mau’izah hasanah).[19]

Dalil-dalil yang menerangkan manhaj mau’izhah hasanah sebagai berikut:

- Metode mau’izah hasanah merupakan suruhan yang jelas daripada Allah SWT:

y7Í´¯»s9'ré& šúïɋ©9$# ãNn=÷ètƒ ª!$# $tB ’Îû óOÎhÎ/qè=è% óÚ̍ôãr'sù öNåk÷]tã öNßgôàÏãur @è%ur öNçl°; þ_Îû öNÎhÅ¡àÿRr& Kwöqs% $ZóŠÎ=t/ ﴿۱ﻠﻨﺴﺎﺀ: ٦٣﴾ 

Artinya: Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan Katakanlah kepada mereka Perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. (Qs. An-Nisa [4]: 63)

 

  1. Nabi Muhammad s.a.w menjadikan nasihat sebagai asas agama.

عن أبي رقية تميم بن أوس الداري رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : الدين النصيحة قلنا : لمن ؟ قال : لله ولكتابه ولرسوله لأئمة المسلمين وعامتهم - رواه مسلم 

Artinya: Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Daary ra, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama itu nasihat”. Kami pun bertanya, “Hak siapa (nasihat itu)?”. Beliau menjawab, “Nasihat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)”.(HR. Muslim).[20]

 - Metode ini yang acap kali dipakai oleh para nabi yang lain.

öNà6äóÏk=t/é& ÏM»n=»y™Í‘ ’În1u‘ O$tRr&ur ö/ä3s9 îûüÏBr& îw¾¾$tR ﴿ﺍﻻﻋﺮﺍﻑ:٦٨﴾  

Artinya: Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu". (Qs. Al-Araf [7]: 68)

 

Dari dalil-dalil ini, Mau’izhah hasanah (pelajaran yang baik) merupakan suatu ajakan berbicara kepada hati dan perasaan agar menyadari dan bergerak untuk bertindak. Karena manusia mempunyai instrumen untuk memahami dan mendalami, yakni dengan akal dan hati. Jika metode hikmah cenderung diberlakukan kepada orang intelektual (elite) yang menstimulasi akal mereka untuk menerima kebenaran dari statement-statement ilmiah-logis, pada gilirannya tergerak untuk melakukan kebaikan dan kebenaran, sedangkan metode mau’izhah hasanah mayoritas dibutuhkan oleh orang awam.

Ahmad Tafsir mengatakan Mau’izah berarti peringatan. Pemberi nasehat harus berulang kali mengingatkan agar nasihat itu berkesan sehingga yang dinasehati tertarik untuk mengikutinya. Suatu nasihat harus disajikan secara ikhlas dan berulang-ulang. Dalam sebuah riwayat pernah memberikan nasehat yang sangat menyentuh perasaan orang yang dinasehatinya sehingga penerima nasehat itu memandang nasehat tersebut seolah-olah sebagai wasiat.[21]

Jikalau kita telisik literatur ilmu dakwah maka al-mau’izhah hasanah merupakan salah satu manhaj (metode) dalam dakwah untuk mengajak ke jalan Allah dengan memberikan nasihat atau membimbing dengan lemah lembut agar mereka mau berbuat baik.[22] Arti kata metode ini sebagai ungkapan yang mengandung unsur bimbingan, pendidikan, pengajaran, peringatan, yang bisa dijadikan pedoman hidup agar mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat.

Berdasarkan dari beberapa pengertian di atas, dapat penulis simpulkan bahwa al-mau’izhah hasanah mengandung arti pendidikan/nasihat (baik pelajaran atau peringatan), dengan cara lemah lembut sehingga dapat diterima dan menimbulkan ketenangan dan ketentraman jiwa bukan kecemasan, gelisah atau ketakutan.

Al-mau’izhah hasanah adalah bentuk pendidikan dengan memberikan nasehat dan peringatan baik dan benar, perkataan yang lemah lembut, penuh dengan keikhlasan, menyentuh hati sanubari, menentramkan dan menggetarkan jiwa peserta didik untuk terdorong melakukan aktivitas dengan baik.

Dalam aplikasinya al-mau’izhah hasanah berupaya untuk memahami peserta didik dengan menghilangkan sikap egois, sehingga nasihat dapat diterima dengan baik. Peserta didik memiliki kebutuhan baik jasmani dan rohani, kebutuhan biologis, kasih sayang, rasa aman, rasa harga diri dan aktualisasi diri yang berkaitan erat dengan pendidikan mau’izhah hasanah.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa memberikan nasihat itu tidak mudah. Mau’izhah hasanah tidak hanya terbatas pada nasihat tetapi perlu dapat dilaksanakan secara terencana, bertahap dan bertanggung jawab, artinya pemberi nasihat (pendidik) memahami etika yang baik dalam memberikan nasihat, dilakukan berulang-ulang dan teraplikasikan dengan baik..

Mauizhah hasanah merupakan salah satu metode pendidikan Islam, yang memberikan penyucian dan pembersihan ruhani/jiwa, yang memungkinkan peserta didik menerima, memahami dan menghayati terhadap materi yang disampaikan. untuk menjadi hamba yang mendapat keridhaan Allah SWT. Dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.

 3. Jidal (Muhadalah)

Kata Jadal atau Jidal menunjuk pada pengertian perdebatan, yaitu; diskusi dengan cara saling menyalahkan pendapat lain dan membenarkan pendapat sendiri.[23] Dimana kedua pihak saling mempertahankan pendapat masing-masing. Secara terminologi, jadal  adalah saling bertukar pikiran atau pendapat dengan jalan masing-masing berusaha berargumen dalam rangka untuk memenangkan pikiran atau pendapatnya dalam suatu perdebatan yang sengit.[24]

Tafsir Jalalain menjelaskan, jadil/jidaal maksudnya perdebatan dengan debat terbaik, seperti menyeru manusia kepada Allah dengan ayat-ayat-Nya dan menyeru manusia kepada hujjah.[25] Hujjah di sini maksudnya adalah berdebat dengan mengeluarkan pendapat yang kebenarannya dapat dipahami oleh akal dan diyakini oleh hati.

Quraish Shihab, kata jâdilhum terambil dari kata jidâl yang bermakna diskusi atau bukti-bukti yang mematahkan alasan atau dalih mitra diskusi dan menjadikannya tidak dapat bertahan, baik yang dipaparkan itu diterima oleh semua orang maupun hanya mitra bicara. Selanjutnya, jadil juga adalah perdebatan dengan cara yang terbaik yaitu dengan logika dan retorika yang halus, lepas dari kekerasan dan umpatan. Sedangkan perintah berjadil disifati dengan kata ahsan/ yang terbaik, bukan sekedar yang baik. Dalam perspektif Quraish Shihab, jadil terdiri dari tiga macam, yang buruk adalah yang disampaikan dengan kasar, yang mengundang kemarahan lawan, serta yang menggunakan dalil-dalil yang tidak benar, yang baik adalah yang disampaikan dengan sopan, serta menggunakan dalil-dalil atau dalih walau hanya yang diakui oleh lawan, tetapi yang terbaik adalah yang disampaikan dengan baik, dan dengan argumen yang benar lagi membungkam lawan.[26]

Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Al-Qur’ān tidak menempuh metode yang dipegang teguh para ahli kalam yang memerlukan adanya muqaddimah (premis) dan naatijah (konklusi) seperti dengan cara beristidlāl dengan sesuatu yang bersifat kulli (universal) atas yang juz’i (partial) atau sebaliknya. Akan tetapi al-Qur’ān banyak mengemukakan dalil dan bukti yang kuat serta jelas yang dapat dimengerti kalangan awam dan orang ahli sehingga mampu mematahkan setiap kerancuan dengan perlawanan dalam tata bahasa yang konkrit, indah, dan tidak memerlukan pemerasan akal.[27]

Dengan demikian dapat dipahami bahwa mujadalah di sini mengandung makna sebagai proses penyampaian materi melalui diskusi atau perdebatan, bertukar pikiran dengan menggunakan cara yang terbaik, sopan santun, saling menghormati dan menghargai serta tidak arogan.

Adapun dalil yang berkenaan dengan mujadalah adalah:

$tBur ã@řöçR tûüÎ=y™ößJø9$# žwÎ) tûïΎÅe³u;ãB tûï͑ɋYãBur 4 ãAω»pgä†ur tûïÏ%©!$# (#rãxÿŸ2 È@ÏÜ»t6ø9$$Î/ (#qàÒÏmô‰ã‹Ï9 ÏmÎ/ ¨,ptø:$# ( (#ÿrä‹sƒªB$#ur ÓÉL»tƒ#uä !$tBur (#râ‘É‹Ré& #Yrâ“èd ﴿ﺍﻠﻜﻬﻑ:٥٦﴾  

Artinya: Dan tidaklah Kami mengutus Rasul-rasul hanyalah sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan; tetapi orang-orang yang kafir membantah (mendebat) dengan yang batil agar dengan demikian mereka dapat melenyap kan yang hak, dan mereka menganggap ayat-ayat Kami dan peringatan- peringatan terhadap mereka sebagai olok-olokan. (Qs. Kahfi [18]: 56)

(#qä9$s% ßyqãZ»tƒ ô‰s% $oYtFø9y‰»y_ |N÷ŽsYò2r'sù $oYs9ºy‰Å_ $oYÏ?ù'sù $yJÎ/ !$tR߉Ïès? bÎ) |MYà2 z`ÏB tûüÏ%ω»¢Á9$# ﴿ﻫﻭﺪ:۳۲﴾ 

Artinya: Mereka berkata, ‘Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah (diksusi/jidal) dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami adzab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar. (QS. Hud [11]: 32

 

Ÿwur (#þqä9ω»pgéB Ÿ@÷dr& É=»tGÅ6ø9$# žwÎ) ÓÉL©9$$Î/ }‘Ïd ß`|¡ômr& žwÎ) tûïÏ%©!$# (#qßJn=sß óOßg÷YÏB ( (#þqä9qè%ur $¨ZtB#uä ü“Ï%©!$$Î/ tA̓Ré& $uZøŠs9Î) tA̓Ré&ur öNà6ö‹s9Î) $oYßg»s9Î)ur öNä3ßg»s9Î)ur ӉÏnºur ß`øtwUur ¼çms9 tbqßJÎ=ó¡ãB ﴿ﺍﻠﻌﻨﻜﺑﻭﺖ :٤٦﴾  

Artinya: Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan Katakanlah: "Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada Kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan Kami dan Tuhanmu adalah satu; dan Kami hanya kepada-Nya berserah diri". (QS. Al-Ankabut [29]: 46)

 

Kisah-kisah mujadalah juga termuat dalam dokumen sejarah, baik yang tercantum dalam sunnah, atsar dan dokumen-dokumen sejarah lainnya. Tradisi muqaranah, muhadzarah, dan mujadalah adalah tradisi yang terus dipelihara sampai sekarang.  Bahkan, al-Qur’an dengan tegas mencela orang-orang kafir yang tidak mau melakukan mujadalah atau muqaranah dengan Nabi saw dalam masalah keimanan. 

Bila diaplikasikan ke dalam pendidikan Islam maka mujadalah dapat dijadikan suatu metode pendidikan agama Islam sebagai metode mujadalah bi al-lati hiya ahsan. Berkenaan dengan pengertian jadala, para ulama mengartikan jadala dengan bertukar pikiran (berdialog), termasuk dengan cara saling mengalahkan argumentasi lawan. Dengan demikian asumsi sementara bila di dalam Al-Qur'an terdapat dialog dan ada usaha saling mematahkan lawan dan bersifat keras. maka dialog tersebut sebagai jadal atau mujadalah.

Metode mujadalah(berdiskusi/berdebat) yaitu bertukar pikiran dengan menggunakan dalil atau alasan yang sesuai dengan kemampuan berpikirnya.[28] Namun begitu, mujadalah yang dimaksud pada ayat 125 dari surat An-Nahl adalah mujadalah dengan cara terbaik. Hai ini mengindikasikan bahwa adanya bentuk mujadalah yang benar-benar tertata dengan rapi dan terorganisir.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa mujadalah di sini mengandung makna sebagai proses penyampaian materi melalui diskusi atau perdebatan, bertukar pikiran dengan menggunakan cara yang terbaik, sopan santun, saling menghormati dan menghargai serta tidak arogan. Allah SWT telah melarang  mujadalah yang memiliki unsur pertengkaran dan permusuhan sebagaimana terkandung dalam surat al-Ankabut [29] ayat 46 yang penulis paparkan diatas.

Selanjutnya dapat di ketahui pula bahwa dalam melakukan mujadalah hendaknya tidak memancing lawan dengan mengeluarkan kata-kata yang kasar karena tidak sesuai dengan nilai-nilai etika Islami. Kata-kata serta sikap yang kasar dapat menimbulkan suasana yang panas, menghindari kesombongan, tinggi hari dan nafsu untuk menjatuhkan lawan.

Proses diskusi bertujuan menemukan kebenaran, memfokuskan diri pada pokok permasalahan. Menggunakan akal sehat dan jernih, menghargai pendapat orang lain, memahami tema pembahasan, antusias, mengungkapkan dengan baik, dengan santun, dapat mewujudkan suasana yang nyaman dan santai untuk mencapai kebenaran serta memuaskan semua pihak. Demikianlah di antaranya mujadalah yang di kehendaki oleh Al-Qur'an (mujadalah bi al-lati hiya ahsan).

Peserta didik adalah individu yang menyukai pergaulan, berkomunikasi, lisan dan tulisan. Dalam memecahkan masalah mencari solusi, perlu menggunakan akal. Ketika terjadi suatu masalah maka tidak hanya asal bicara, melainkan dengan menggunakan pemikiran yang jelas, berdasarkan fakta yang akurat, perkataan yang tepat serta alur pikiran yang sistematis dan logis.

Dalam proses pendidikan, mujadalah bi al-lati hiya ahsan secara esensial adalah metode diskusi / dialog yang dilaksanakan dengan baik sesuai dengan nilai Islami. Selain itu metode ini berguna untuk melatih keterampilan berargumentasi, berbicara dan mendengar. Diskusi sebagai proses membangun argumentasi, perlu rasional, dengan menggunakan pikiran yang cermat.

Pendapat yang dilontarkan dengan perkataan santun tidak kasar akan lebih dimengerti dan dipahami kebenarannya. Di samping itu sikap memperhatikan pendapat orang lain dengan mencermati masalah yang didiskusikan merupakan manifestasi dari etika yang baik dan semua yang terlibat akan merasa di hargai.

Pendidikan agama Islam merupakan pendidikan yang memiliki nilai tinggi dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu diskusi untuk memecahkan suatu permasalahan dan mencari kebenaran dalam proses pendidikan agama Islam, sangat dianjurkan. Melalui pemecahan masalah untuk mencari suatu kebenaran dapat mendorong siswa untuk memiliki pemahaman yang luas dan memuaskan rasa ingin tahunya. Untuk itu proses diskusi perlu diperhatikan dengan baik.

Di antara materi pendidikan agama Islam akan terasa lebih bermakna, mudah dan memiliki nilai pengetahuan yang luas apabila disajikan dalam bentuk diskusi yang islami. Sehingga memberikan nilai plus bagi peserta didik dengan memperoleh wawasan yang luas, dan keyakinan yang kuat terhadap pemahaman keagamaan, serta melatih peserta didik agar berbicara dan menjadi pendengar yang baik.

 D.    Penutup

  Al-Qur'an surat an-Nahl ayat 125 merupakan ayat yang mengandung nilai-nilai edukatif tentang metode pendidikan agama Islam yang meliputi: al- hikmah, al-mau’izhah hasanah, dan Mujaadalah.

      Berdasarkan penafsiran para mufassir terhadap al-Qur'an surat an-Nahl ayat 125 terdapat tiga metode pendidikan; yakni pertama,   metode pendidikan dengan melalui bil-hikmah, yakni: pengetahuan yang dalam yang menjelaskan kebenaran serta menghilangkan kesalah-pahaman melalui tutur kata yang tegas dan benar serta mempengaruhi jiwa akal budi yang mulia, dada yang lapang dan hati yang bersih serta mampu bersikap proporsional, mampu membedakan mana yang harus di kerjakan dan mana yang harus ditinggalkan.

Kedua, metode pendidikan dengan al-mau’izhah hasanah, menurut tafsiran para mufasir artinya adalah pendidikan yang baik. Yakni bentuk pendidikan dengan memberikan nasehat dan peringatan baik dan benar, perkataan yang lemah lembut, penuh dengan keikhlasan, menyentuh hati sanubari, menentukan dan menggetarkan jiwa peserta didik untuk terdorong melakukan aktivitas dengan baik.

Ketiga, metode pendidikan dengan melalui mujaadalah atau (jidal) artinya adalah bantahan yang lebih baik, yakni bantahan dengan memberi manfaat, bersikap lemah lembut perkataan yang baik bersikap tenang dan hati-hati menahan amarah serta lapang dada.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abdul Hamid al-Bilali, Fiqh al-Dakwah fi ingkar al-Mungkar, Kuwait: Dar al-Dakwah, 1989.

Abu Al-Fida Ibn Umar Ibn Katsir,  Tafsir Al-Qur’an Al –Adzim, Tahqiq oleh Samy bin Muhammad Salamah, Madinah: Dar at-Thoyyibah Linasyri Wa Tawji’, 1420 H.

Ahmad Mustofa Al-Maroghi, Tafsir Al-Maraghi, terj. Hey Noer Aly, dkk, Semarang: Toha Putra, 1992.

Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005.

Al-Khazin,  Lubab At Ta’wil Fi Ma’ani AT Tanjil, Mawaqi’u At Tafasir,  t-tp, tt.

As Sarkhasy, Ushul As Sarkhasy, Mawaqi’u ya’sub,  tt, t-tp,

Fuad Ihsan, Dasar-dasar Kependidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 2008.

Hasanuddin, Hukum Dakwah, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996.

Ja’far Muhmaad ibn Jarir Ath-Thabarii, Tafsir Ath-Thabari; Jami’ul Bayan Ta’wilul Qur’an, Bairut-Libanon: Darul kutubul Ilmiuah, 1996.

Jalaluddin dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan: Manusia, Filsafat, dan Pendidikan, ed.1, cet. ke-2, Jakarta: Rajawali Pers, 2012.

Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al-Mahalli dan Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakar As-Suyuti, Tafsir Al-Jalâlain, Surabaya: Maktabah Dâr Ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyyah Indonesia, 1414H.

K.H.Qamaruddin Shaleh, dkk, Asbabun Nuzul; Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-Ayat Al-Qur’an,  Bandung: Diponegoro , 1992.

M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Vol. 6, cet. II, Jakarta: Lentera Hati, 2009.

Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr bin Farah al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi, Kairo: Dâr Sya’b, 1373 H.

Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, ed. Revisi, cet.4, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2003.

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, ed.III, cet. ke-3, Jakarta: Balai Pustaka, 2007.

Shihab al-Din al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî,  Beirut. Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1993.

Syaikh Manna Al-Qaththan, Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an, terj. Mifdhol Abdurrahman, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2005.

Taqiyuddin An-Nabhani, Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah, Beirut: Darul Ummah, 1997.

Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Ilmu-Ilmu al-Qur’an. Semarang: Pustaka Rizki Putra. Edisi ketiga. 2009.

Wahbah al-Zuhailiy, Tafsir Munir, Libanon: Dar al-Fikr al-Mu’ashir, 1994, juz XIII. 



[1]Fuad Ihsan, Dasar-dasar Kependidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008),  h. 1-2.

[2]Jalaluddin dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan: Manusia, Filsafat, dan Pendidikan, ed.1, cet. ke-2; (Jakarta: Rajawali Pers, 2012), h. 8.

[3]Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, ed. Revisi, cet.4, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2003), h. 1.

[4]Abu Al-Fida Ibn Umar Ibn Katsir,  Tafsir Al-Qur’an Al –Adzim, Tahqiq oleh Samy bin Muhammad Salamah, (Madinah: Dar at-Thoyyibah Linasyri Wa Tawji’, 1420 H), hal. 613/IV.

[5]As Sarkhasy, Ushul As Sarkhasy, Mawaqi’u ya’sub,  tt, t-tp, hal.164/I.

[6]Taqiyuddin An-Nabhani, Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah, (Beirut: Darul Ummah, 1997), hal. 241/III.

[7]K.H.Qamaruddin Shaleh, dkk, Asbabun Nuzul; Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-Ayat Al-Qur’an, ( Bandung: Diponegoro , 1992), hal.189.

[8]M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, volume 6, cet. II, (Jakarta: Lentera Hati, 2009), h. 774.

[9]Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al-Mahalli dan Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakar As-Suyuti, Tafsir Al-Jalâlain, (Surabaya: Maktabah Dâr Ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyyah Indonesia, 1414H), h. 226.

[10]Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr bin Farah al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi, (Kairo: Dâr Sya’b, 1373 H), h. 200/10.

[11]Shihab, Tafsir…, h. 774-775.

[12]Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, ed.III, cet. ke-3, (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), h. 232.

[13]Wahbah al-Zuhailiy, Tafsir Munir, (Libanon: Dar al-Fikr al-Mu’ashir, 1994), juz XIII, h. 267. 

[14]Shihab al-Din al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî,  (Beirut. Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1993), h.  82/XI.

[15]Shihab, Tafsir…, h. 775.

[16]Ja’far Muhmaad ibn Jarir Ath-Thabarii, Tafsir Ath-Thabari; Jami’ul BAyan Ta’wilul Qur’an, (Bairut-Libanon : Darul kutubul Ilmiuah, 1996), h. 663.

[17]Ahmad Mustofa Al-Maroghi, Tafsir Al-Maraghi, terj. Hey Noer Aly, dkk , (Semarang: Toha Putra, 1992),  hlm. 283

[18]Al-Khazin,  Lubab At Ta’wil Fi Ma’ani AT Tanjil, Mawaqi’u At Tafasir,  t-tp, tt. Hal.222/IV.

[19]Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), h. 145.

[20]Hadits shahih diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya, hadits no. 55 dan no. 95.

[21]Ibid., h. 146.

[22]Abdul Hamid al-Bilali, Fiqh al-Dakwah fi ingkar al-Mungkar, (Kuwait: Dar al-Dakwah, 1989), h. 260

[23]Syaikh Manna Al-Qaththan, Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an, terj. Mifdhol Abdurrahman, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2005), h. 265.

[24]Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Ilmu-Ilmu al-Qur’an. (Semarang: Pustaka Rizki Putra. Edisi ketiga. 2009), h. 121.

[25]As-Suyuti,et.al, Tafsir Al-Jalâlain…, h. 226.

[26] Shihab, Tafsir Misbah… h. 776-777.

[27] Qattan, Pengantar Studi..., h. 427.

[28]Hasanuddin, Hukum Dakwah (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996),, h. 39.

 

 

 

Add comment


Security code
Refresh